sebab-sebab aurora sukarela menusukkan jarinya ke jarum pemintal lalu tidur cantik selamanya

 aku tak tau apakah manusia bisa telepati, atau apakah telepati itu nyata? mungkin bukan lewat membaca pikiran, namun lewat rasa. aku tak tau, mungkin semacam rasa yang kuat seperti rindu yang menyesakkan dapat terbang di langit malam beriringan dengan angin dingin. melewati jalan pintas menuju tempat tinggal Tuan para puisi. ia akan mengenali rasamu. ia menghidu aroma rindu yang sama dan setika ia tunduk.

adapun yang tak dikenalinya, entah kemana ia pergi. barangkali ia berkeliling sejenak melewati semak melati dan rumpun sedap malam, untuk akhirnya kembali lagi padaku dalam rupa keteguhan dan kesetiaan atau kembali dalam kejujuran yang menyadarkanku akan tipuan sehingga aku berhenti merengkuh kebodohan dan berhenti dibuat lemah oleh rasa. dan aku amat marah, menepisnya mentah-mentah. sehingga aku mengurungnya di sudut paling terpencil di hatiku dan membelenggu tanganku dari menulis apapun, apapun tentang perasaan menyedihkan ini. kukira aku sudah menang, ternyata tak lama. astaga, sudah berapa tahun ini? sudah berapa kali sejak aku mengalah lagi dan lagi pada rasa sehingga dengan sukarela jemariku meraih jarum pemintal paling tajam lalu mengukir kata di atas kulitmu yang keras oleh kehidupan. 

tapi tidak, aku tidak melakukannya, itu hanya skenario palsu dalam kepalaku, itu kemarahanku yang bukan salahmu.

di titik ini, aku tak tau mana yang kucintai dengan jujur. apakah Tuan para puisi atau perasaan dicintai itu sendiri? kelak buat aku mengerti. barangkali hatiku sebegitu kosongnya dari cinta kepada Rabb sehingga cinta remehmu membuatku resah seresah-resahnya.

Comments

More