sebab-sebab aurora sukarela menusukkan jarinya ke jarum pemintal lalu tidur cantik selamanya
aku tak tau apakah manusia bisa telepati, atau apakah telepati itu nyata? mungkin bukan lewat membaca pikiran, namun lewat rasa. aku tak tau, mungkin semacam rasa yang kuat seperti rindu yang menyesakkan dapat terbang di langit malam beriringan dengan angin dingin. melewati jalan pintas menuju tempat tinggal Tuan para puisi. ia akan mengenali rasamu. ia menghidu aroma rindu yang sama dan setika ia tunduk. adapun yang tak dikenalinya, entah kemana ia pergi. barangkali ia berkeliling sejenak melewati semak melati dan rumpun sedap malam, untuk akhirnya kembali lagi padaku dalam rupa keteguhan dan kesetiaan atau kembali dalam kejujuran yang menyadarkanku akan tipuan sehingga aku berhenti merengkuh kebodohan dan berhenti dibuat lemah oleh rasa. dan aku amat marah, menepisnya mentah-mentah. sehingga aku mengurungnya di sudut paling terpencil di hatiku dan membelenggu tanganku dari menulis apapun, apapun tentang perasaan menyedihkan ini. kukira aku sudah menang, ternyata tak lama. astaga...